Melihat dari Dekat Composting House DLHK3 di Gampong Ilie

• Bisa Rawat Taman dan Bagikan Pupuk untuk Warga Sekitar

Banda Aceh – Belum banyak yang mengetahui kalau Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh memiliki Composting House sebagai tempat mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Letaknya di Gampong Ilie Kecamatan Ulee Kareng.

Kata Kepala DLHK3, Hamdani SH program Composting House tersebut sudah berlangsung sejak lima tahun lalu, dimana lewat program ini, dinas yang ia pimpin mengumpulkan sampah-sampah organik yang ada di Pasar Ulee Kareng dan desa sekitarnya untuk diolah kembali menjadi pupuk kompos.

“Program kompos skala komunal di gampong Ilie itu sebenarnya sudah dimulai lima tahun yang lalu, hanya saja selama ini kurang tereskpos,” kata Hamdani, Selasa (16/6/2020).

Setiap bulannya, Composting House ini mampu menampung sebanyak dua (2) ton sampah organik dari kapasitas keseluruhan sebanyak 50 ton. Proses pengolahan sampah dilakukan menggunakan metode windrow.

Media ini kemudian berkesempatan mengunjungi lokasi untuk melihat lebih dekat proses pembuatan pupuk di Composting House tersebut.

Saat tiba di lokasi, Kasi Teknologi Pengelolaan Sampah DLHK3 Kota Banda Aceh, Rosdiana kemudian menjelaskan tahapan-tahapan yang dilakukan hingga menghasilkan pupuk kompos yang kemudian digunakan untuk pemupukan taman-taman dalam kota, dan juga sebagian dibagi-bagikan untuk warga sekitar.

Kata Rosdiana, tahapan pertama, ketika sampah yang telah dikumpulkan petugas tiba di lokasi akan melewati beberapa tahapan, diantaranya adalah pencacahan dengan menggunakan mesin pencacah sampah, lalu ditumpuk dan diaduk sebanyak satu sampai dua kali dalam seminggu.

Pada proses penumpukan kemudian memakan waktu tiga hingga enam bulan lamanya, tergantung bahan baku sampah organiknya.

“Saat proses pembusukan, itu tergantung dari bahan baku. Kalau sampah buah, sayur lebih cepat, hanya 3 bulan. Sedangkan sampah organik lain seperti ampas tebu itu bisa sampai enam bulan baru siap diproses,” ungkap Rosdiana.

Salah seorang pekerja, Sugimin ikut menjelaskan. Katanya, setelah ditumpuk, sampah tersebut memasuki tahapan pengeringan selama dua pekan. Kemudian baru diayak dan didiamkan selama sehari sebelum dikemas.

“Setelah kita ayak, kita diamkan selama sehari agar binatang pemakan akar yang ada di kompos itu hilang,” kata Sugimin.

Lanjutnya, proses tersebut dilakukan agar pupuk terlihat halus dan tidak kasar.

Setelah dikemas, kompos tersebut sebagian dibagi-bagikan untuk warga sekitar. Kemudian ada juga dijual ke pengusaha garden yang ada di Kota Banda Aceh. Namun, harganya sangat murah, hanya Rp1500 per kilogram.

Ditanya berapa jumlah pupuk yang dihasilkan dalam sekali produksi, Rosdiana mengatakan tergantung dari volume bahan baku yang terkumpul, baik sampah sayur, buah-buahan maupun sampah dedaunan.

“Kalau bahan baku sekitar 1 ton, itu bisa menghasilkan kompos sekitar 300 kg. Kalau bahannya lebih banyak, pastinya akan lebih banyak lagi komposnya. Namun yang penting, bisa mengurangi sampah ke TPA, bisa digunakan untuk perawatan taman dan juga bisa membantu warga,” pungkas Rosdiana.[]