Capaian Kinerja DLHK3, Hasilkan Gas Metan Hingga Tutup 111 TPS Liar

Banda Aceh – Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh memaparkan capaian kinerja dari program-program yang telah direalisasikan selama ini, terutama sejak Wali Kota Aminullah Usman dan wakilnya Zainal Arifin yang dilantik 7 Juli 2017 lalu.

Kini, di usia empat tahun kepemimpinan Amin-Zainal, DLHK3 mempublikasikan capaian kinerja mereka di berbagai bidang.

Tercatat ada 10 pencapaian besar yang diraih dinas yang dipimpin Hamdani Basyah ini.
“Tidak terasa sudah 4 tahun Pak Aminullah dan Pak Zainal Arifin memimpin Banda Aceh. Alhamdulillah, DLHK3 terus bekerja keras berupaya merealisasikan program-program kebersihan, keindahan dan lingkungan,” kata Kepala DLHK3, Hamdani Basyah, Kamis (8/7/2021).

Katanya, ada 10 capaian besar yang ditorehkan DLHK3.

Menyulap sampah di TPA Gampong Jawa menjadi gas metan merupakan inovasi paling menarik perhatian publik.

Gas metan yang dihasilkan dari penguraian sampah organik di lahan urug TPA tersebut kemudian berhasil dikumpulkan, diolah jadi gas metan dan disalurkan ke rumah-rumah warga yang berada di sekitar lokasi TPA tersebut. Saat ini sudah disalurkan ke 210 KK secara gratis. Sebuah inovasi yang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.

Selanjutnya, di empat tahun kepemimpinan Amin-Zainal, DLHK3 berhasil menutup Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar yang tersebar di wilayah kota.

Jumlah TPS liar di ‘Kota Gemilang’ menurun drastis dari tahun ke tahun. Data awal hasil survey, TPS liar di wilayah Aceh terdapat 140 titik. Tahun 2020 saja sudah mencapai 79,3%

Dengan kerja keras DLHK3, tahun 2018 berhasil dikurangi 28 titik, tahun 2019 ada 64 titik dan pada tahun 2020 sebanyak 19 titik.
“Sehingga total keseluruhan TPS liar yang sudah ditutup adalah sebanyak 111 titik,” ungkap Hamdani Basyah.

Tidak berhenti di situ, DLHK3 juga menuai apresiasi dari sektor pengelolaan sampah. Dari sekitar 225 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, mampu dikelola hingga 96,87 persen. Tidak berlebihan kemudian Banda Aceh ditetapkan sebagai kota terbaik pengelolaan sampah se-Indonesia.

Kemudian program pemilahan dan pembatasan sampah yang melibatkan partisipasi masyarakat. Untuk program ini, DLHK3 menggandeng 61 sekolah, 46 kantor/instansi, 35 rumah ibadah, 5 restoran, 15 ritel dan 28 Depo Waste Collecting Point (WCP) dari 13 gampong. Program pemilahan sampah sistem WCP ini sejak kepemimpinan Aminullah Usman berkembang pesat. Tercatat dari program ini, pengurangan sampah mencapai 12,2 ton atau 13,84% dari total timbulan sampah pada tahun 2020 lalu.

Selanjutnya, pembangunan taman median jalan. Selain di jalan-jalan protokol yang telah dibangun sebelumnya, saat ini penambahan pembangunannya dilakukan di 14 titik lokasi, diantaranya Jl Mohd Hasan, Jl Tgk Imum Lueng Bata, Jl Cut Nyak Dhien dan jalan lainnya. Tidak salah kemudian seluruh jalan di Banda Aceh saat ini terlihat dipenuhi dengan rimbunnya aneka jenis bunga.

Pembangunan lampu hias juga menjadi capaian lain di sektor keindahan dimana Banda Aceh terlihat ‘lebih hidup’ di malam hari. Ada 12 titik pembangunan lampu hias yang telah dilakukan.

Kemudian DLHK3 berhasil memasang 1.259 unit lampu hemat energi. Pemasangan lampu ini dapat menghemat energi listrik sehingga dapat menghemat anggaran juga.

Penerangan Jalan Umum (PJU) mengalami kenaikan. Peningkatannya mencapai 82,35 persen. Tidak mengherankan jika di ibukota Provinsi Aceh ini fasilitas publik seperti taman dan semua ruas jalan terlihat terang benderang di malam hari.

Untuk izin atau rekomendasi lingkungan, sejauh ini sudah diterbitkan 1.580 izin kepada pelaku usaha. Lewat program ini DLHK3 terus berupaya mendorong para pelaku usaha di Banda Aceh menjaga lingkungan.

Terkait penanganan sampah di gampong, Pemko melalui DLHK3 telah menghibahkan becak patroli sampa untuk 90 gampong (desa). Becak patroli sampah ini kemudian berkontribusi dalam mengurangi TPS liar.

Capaian lainnya adalah berhasil membangun energi terbarukan. Hasilnya memang belum dalam kapasitas besar, masih hasilkan 25,76 kilowatt peak (kWp). Dengan terpasangnya solar panel di beberapa atap gedung pemerintah, Pemko bisa berhemat tagihan listrik sebesar Rp 147,744/bulannya.

Program ini menunjukkan Banda Aceh berkontribusi mengatasi pemanasan global.[]