KOMPOSTING SKALA RUMAH TANGGA

Program pengembangan Komposting Skala Rumah Tangga di Banda Aceh merupakan bentuk kerjasama Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh dengan Pemerintah Canada melalui program CALGAP (Canadian Aceh Local Government Assistence Program) yang didanai oleh CIDA (Canadian International Development Agency). Proyek ini dilaunching pada tanggal 11 Februari 2007.

Komposting adalah sebuah program untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk tanaman dengan cara mencampurkan sampah-sampah dapur seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan sampah yang dapat membusuk lainnya ditambah serbuk kayu atau daun-daun kering dengan perbandingan 1:1 ke dalam wadah pembuatan kompos yang disebut komposter. Setiap hari dilakukan pengadukan hingga diperoleh hasil setelah 8 minggu. Hasil akan terlihat seperti tanah yang berwarna hitam dan tidak berbau. Hasil dapat langsung digunakan pada tanaman seperti bunga dan pohon.

Alasan membuat kompos:
1. Mengurangi sampah rumah tangga sebanyak 60%;
2. Memperbaiki kualitas dan kimia tanah sehingga dapat meningkatkan kesuburan;
3. Menghemat uang untuk membeli pupuk;
4. Lingkungan menjadi bersih, sehat dan indah;
5. Menyelamatkan bumi dari kerusakan.

Pemeriksaan
Mutu Kompos
Kompos yang baik memiliki ciri :

  1. tidak berbau busuk tetapi berbau tanah
  2. warna kehitaman atau coklat kehitaman, berbentuk butiran seperti tanah
  3. suhu sama dengan suhu tanah
  4. jika dimasukkan kedalam air seluruhnya tenggelam dan warna air keruh tetapi bening. Jika sebagian besar mengambang, berarti ada bahan yang belum menjadi kompos (dari pembusukan atau pembakaran sampah). Jika airnya keruh berarti mengandung air lindih dari pembusukan sampah
  5. jika digunakan untuk pupuk tidak tumbuh tanaman yang tidak dikehendaki (gulma)

 

Tujuan

Program komposting ini bertujuan untuk mengubah cara pandang masyarakat terutama ibu rumah tangga terhadap sampah. Biasanya sampah dianggap mendatangkan masalah, namun kini sampah dapat memberi manfaat. Ibu-ibu rumah tangga tidak perlu lagi membeli pupuk untuk tanaman, mereka dapat membuatnya sendiri di rumah dengan memanfaatkan sampah dapur. Selain itu program composting ini juga bertujuan mengurangi sampah yang harus diangkut dan dibuang ke TPA. Dengan cara mengolah sampah tersebut langsung dari sumbernya yaitu rumah tangga. Karena komposisi terbesar dari sampah adalah sampah organik yaitu sebesar 70% sampah organik dan 30% sampah anorganik.

 

Perkembangan terkini

Program komposting  sudah pernah berkembang hingga 50 desa dari 90 desa yang ada di Kota Banda Aceh, namun saat ini hanya 36 desa yang masih terus aktif melakukan komposting, tersebar di 9 kecamatan. Selain di desa-desa, komposting skala rumah tangga juga dikembangkan di sebagian besar.
Sekolah yang ada di Kota Banda Aceh. Selama program komposting skala rumah tangga dikembangkan, terjadi pasang surut jumlah masyarakat yang membuat kompos. Diawal pengembangan program ini jumlah masyarakat aktif mencapai 1.592 rumah tangga, namun jumlah ini terus berkurang dengan berbagai alasan hingga tahun 2012 tinggal 696 rumah tangga yang masih aktif membuat kompos. Tahun 2013 jumlah peserta bertambah menjadi 879 rumah tangga dan hingga pertengahan tahun 2014 menjadi 1036 rumah tangga.

Pengembangan composting skala rumah tangga di Kota Banda Aceh berada dibawah Seksi Pengelolaan Sampah Bidang Kebersihan, oleh 5 orang composting specialist yang setiap harinya bekerja melakukan monitoring dan sosialisasi ke desa-desa dan sekolah-sekolah untuk memperkenalkan dan mengembangkan program composting skala rumah tangga, disamping juga aktif mengembangkan program bank sampah, daur ulang sampah dan biopori.

Kunci Keberhasilan Pengembangan Komposting Skala Rumah Tangga (Lesson Learnt) :

  • Memberikan pemahaman kepada masyarakat tdk bisa dilakukan hanya sekali, tetapi merupakan upaya yang harus dilakukan berulang-ulang
  • Monitoring secara rutin ke lapangan sangat menentukan tingkat keberhasilan pengembangan komposting skala rumah tangga
  • Pemberian apresiasi dan insentif ternyata dapat mempengaruhi semangat masyarakat untuk melakukan komposting skala rumah tangga
  • Harus dilakukan upaya yang terus menerus untuk melakukan studi dan berkolaborasi dengan masyarakat untuk mengembang model komposter yang paling sesuai/cocok dengan keinginan/kebutuhan masyarakat.